Jl. Deles Indah Km 2
Kebonarum, Klaten
Artikel
Apakah Retainer Harus Dipakai Seumur Hidup?
Apakah Retainer Harus Dipakai Seumur Hidup?
Setelah menjalani perawatan behel atau aligner, banyak orang merasa lega karena giginya sudah rapi. Namun, ternyata perjalanan belum selesai. Dokter gigi biasanya akan memberikan retainer dan menyarankan agar alat tersebut dipakai secara rutin.
Apa Itu Retainer?
Retainer adalah alat yang digunakan setelah perawatan ortodonti (behel atau aligner) untuk menjaga agar posisi gigi tetap rapi. Setelah behel dilepas, jaringan di sekitar gigi masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan posisi barunya. Tanpa retainer, gigi memiliki kecenderungan untuk kembali bergeser ke posisi semula. Kondisi ini disebut relapse.
Mengapa Gigi Bisa Bergeser Lagi?
Meskipun gigi sudah tampak rapi, tulang dan jaringan penyangga gigi belum sepenuhnya stabil. Selain itu, gigi memang dapat terus mengalami perubahan posisi seiring bertambahnya usia. Beberapa faktor yang menyebabkan gigi bergeser antara lain:
- Proses penuaan alami.
- Tekanan saat mengunyah.
- Kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism).
- Kebiasaan menggigit benda keras.
- Penyakit gusi yang menyebabkan gigi menjadi goyang.
- Tidak memakai retainer sesuai anjuran dokter.
Karena alasan tersebut, penggunaan retainer menjadi bagian penting dari keberhasilan perawatan ortodonti.
Jadi, Apakah Harus Dipakai Seumur Hidup?
Menurut berbagai penelitian terbaru, ya, retainer sebaiknya tetap digunakan dalam jangka panjang jika ingin mempertahankan hasil perawatan ortodonti. Namun, bukan berarti retainer harus dipakai 24 jam sehari selamanya. Umumnya, dokter gigi akan memberikan panduan seperti berikut:
- Pada beberapa bulan pertama retainer biasanya dipakai hampir sepanjang hari, kecuali saat makan, menyikat gigi, atau membersihkan retainer.
- Setelah kondisi stabil pemakaian dapat dikurangi menjadi hanya saat tidur malam.
Pada banyak pasien, penggunaan retainer di malam hari dianjurkan untuk jangka panjang, bahkan bertahun-tahun. Hal ini karena gigi tetap memiliki kecenderungan bergerak sepanjang hidup.
Jenis Retainer
Secara umum terdapat dua jenis retainer.
- Retainer Lepasan (Removable Retainer). Retainer ini dapat dilepas-pasang sendiri.
Kelebihannya mudah dibersihkan, lebih nyaman saat makan, mudah diganti jika rusak.
Kekurangannya harus disiplin dipakai, mudah hilang atau pecah jika tidak disimpan dengan baik.
- Retainer Tetap (Fixed Retainer). Retainer ini berupa kawat tipis yang direkatkan pada bagian belakang gigi sehingga tidak terlihat dari depan.
Kelebihannya selalu bekerja menjaga posisi gigi, tidak bergantung pada kepatuhan pasien.
Kekurangannya lebih sulit dibersihkan, memerlukan kontrol rutin karena kawat dapat terlepas.
Apa yang Terjadi Jika Berhenti Memakai Retainer?
- Gigi kembali berjejal.
- Celah antargigi muncul kembali.
- Pada beberapa kasus diperlukan perawatan ortodonti ulang.
Semakin lama retainer tidak digunakan, semakin besar kemungkinan gigi mengalami perubahan posisi.
Cara Merawat Retainer
- Bersihkan retainer setiap hari.
- Jangan menggunakan air panas karena dapat mengubah bentuk retainer plastik.
- Simpan retainer dalam kotaknya saat tidak digunakan.
- Hindari membungkus retainer dengan tisu karena mudah terbuang.
Kapan Harus Menghubungi Dokter Gigi?
- Retainer terasa longgar.
- Retainer patah atau retak.
- Retainer tidak lagi pas saat dipakai.
- Gigi mulai terasa bergeser.
- Kawat retainer tetap terlepas.
Semakin cepat diperiksa, semakin mudah mempertahankan hasil perawatan.
Retainer merupakan bagian penting dari keberhasilan perawatan ortodonti. Setelah behel atau aligner dilepas, gigi masih memiliki kecenderungan untuk bergeser. Oleh karena itu, sebagian besar dokter gigi menganjurkan penggunaan retainer dalam jangka panjang. Meskipun tidak selalu dipakai sepanjang hari, penggunaan retainer pada malam hari dalam jangka panjang merupakan cara terbaik untuk menjaga agar senyum tetap rapi. Ikuti selalu petunjuk dokter gigi karena kebutuhan setiap pasien dapat berbeda.
Daftar Pustaka
Pamungkas, G. B. (2022). The role of retainer as preventive in post-orthodontic treatment relapse. Indonesian Journal of Dentistry, 2(2), 1–4. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung.
Aurellia, S. C., Dermawan, T. M., Akifah, T. F., & Pakpahan, E. L. (2024). Relapse after orthodontic treatment. Moestopo International Review on Social, Humanities, and Sciences, 4(2), 238–250
Normando, D. (2022). Treatment stability with bonded versus vacuum-formed retainers: A systematic review of randomized clinical trials. European Journal of Orthodontics, 44(2), 187–196.
Kalemaj, Z., Boccalari, E., Tremolati, M., Tartaglia, G. M., & Caprioglio, A. (2025). Which orthodontic retainer provides the best stabilization? A systematic review and network meta-analysis. Journal of Orofacial Orthopedics.